Jumat, 17 April 2015

BAHASA INDONESIA 2

Tahun ini bisa dibilang sangat revolusioner. Beberapa sistem lama kini diubah sedemikian rupa demi mengikuti tuntutan zaman yang kini semakin canggih dan menuntut kualitas SDM.

Siswa dengan Nilai UN Rendah Masih Bisa Masuk Perguruan Tinggi - kesekolah.comMulai dari kebijakan nilai UN yang tidak lagi menjadi standar kelulusan hingga sistem UN bebasis komputer (CBT). Kini, Kepala Pusat Penilaian Pendidikan (Kapuspendik) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Nizam, mengatakan, sekolah tidak berhak menahan surat keterangan hasil ujian nasional (SKHUN) dan ijazah.

Nilai yang didapat siswa, berapapun harus terima hasilnya. Jadi, nantinya tidak ada lagi istilah tidak lulus, hanya saja belum mencapai standar yang ditentukan oleh Badan Standar Nasional dan Pendidikan (BSNP) Kemdikbud yang kini memiliki rata- rata 5,5 per mata pelajaran.

"Meskipun mendapat nilai tiga, siswa tetap berhak menerima SKHUN, ijazah dan melanjutkan ke perguruan tinggi," ujar Nizam, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta.

Jadi, poin pentingnya oleh Nizam ditegaskan bahwa siswa yang akan mengulang hanya diperbolehkan mengulangi mata pelajaran yang tidak lulus sesuai dengan standar Kemdikbud, dan tetap dapat masuk ke perguruan tinggi meskipun nilanya tidak mencapai standar. Hal ini dapat dipertimbangkan dari nilai rapor dan mutu sekolah.

Ia menegaskan, bagi "Ada salah persepsi yang mengatakan siswa tidak memenuhi target BSNP tidak dapat melanjutkan ke perguruan tinggi," ujar Nizam.

Bagi siswa yang nilainya di atas 6,0, Nizam mengatakan, tidak diperkenankan mengulangi. Tujuannya, agar siswa tidak menyepelekan UN dan mau belajar yang sungguh-sungguh. Selain itu, untuk menentukan integritas kejujuran, yang dilihat dari siswa, guru, dan sekolah dalam pelaksanan UN.

Nizam dan pihaknya kini memiliki metode untuk menanggulangi setiap tindak kecurangan/ketidakjujuran dalam pelaksanaan UN. Untuk metodenya sendiri, Nizam mengatakan pihaknya tidak akan membocorkan menggingat akan ada yang mengakali bila dibocorkan. Metode tersebut dapat mendeteksi seberapa banyak siswa kerja sama saat UN atau mengetahui ketika melakukan tindakan menyebarkan sontekan.

Sumber http://www.kesekolah.com/artikel-dan-berita/berita/siswa-dengan-nilai-un-rendah-masih-bisa-masuk-perguruan-tinggi.html

Sabtu, 11 April 2015

BAHASA INDONESIA

PENALARAN
Penalaran adalah proses berpikir yang
bertolak dari
pengamatan indera (pengamatan empirik)
yang menghasilkan sejumlah konsep dan
pengertian. Berdasarkan pengamatan yang
sejenis juga akan terbentuk proposisi –
proposisi yang sejenis, berdasarkan
sejumlah proposisi yang diketahui atau
dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah
proposisi baru yang sebelumnya tidak
diketahui. Proses inilah yang disebut
menalar.

METODE INDUKTIF
Paragraf Induktif adalah paragraf yang
diawali dengan menjelaskan permasalahan-
permasalahan khusus (mengandung pembuktian
dan contoh-contoh fakta) yang diakhiri dengan
kesimpulan yang berupa pernyataan umum.
Paragraf Induktis sendiri dikembangkan
menjadi beberapa jenis.

METODE DEDUKTIF
Metode berpikir deduktif adalah metode
berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum
terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan
dalam bagian-bagiannya yang khusus.


PROPOSISI
Proposisi ialah kalimat logika yang
merupakan pernyataan tentang hubungan
antara dua atau beberapa hal yang dapat
dinilai benar atau salah. Dengan kata lain,
Proposisi sebagai pernyataan yang didalamnya
manusia mengakui atau mengingkari sesuatu
tentang sesuatu yang lain.

EVIDENSI
Evidensi adalah semua fakta yang
ada, yang di hubung-hubungkan untuk
membuktikan adanya sesuatu. Evidensi
merupakan hasil pengukuan dan pengamatan
fisik yang digunakan untuk memahami suatu
fenomena.
Evidensi sering juga disebut bukti
empiris. Akan tetapi pengertian
evidensi ini sulit untuk ditentukan secara
pasti, meskipun petunjuk kepadanya tidak
dapat dihindarkan. Data dan informasi yang
di gunakan dalam penalaran harus
merupakan fakta. Oleh karena itu perlu
diadakan pengujian melalui cara-cara
tertentu sehingga bahan-bahan yang
merupakan fakta itu siap di gunakan sebagai
evidensi.

CARA MENGUJI DATA
Data dan informasi yang digunakan
dalam penalaran merupakan fakta. Oleh
karena itu perlu diadakan pengujian
melalui cara-cara tertentu sehingga
bahan berupa fakta itu siap digunakan
sebagai evidensi.
Dibawah ini beberapa cara yang dapat
digunakan untuk pengujian data:
1. Observasi yaitu mengamati secara
langsung suatu objek
2. Kesaksian
3. Autoritas

SILOGISME & ENTIMEN
Silogisme adalah cara penarikan kesimpulan
secara deduktif dan kesimpulan disimpulkan dari
2 pernyataan.

CARA MENGUJI DATA
Data dan informasi yang digunakan
dalam penalaran merupakan fakta. Oleh
karena itu perlu diadakan pengujian
melalui cara-cara tertentu sehingga
bahan berupa fakta itu siap digunakan
sebagai evidensi.
Dibawah ini beberapa cara yang dapat
digunakan untuk pengujian data:
1. Observasi yaitu mengamati secara
langsung suatu objek
2. Kesaksian
3. Autoritas
contoh :
P1: Semua anak kelas X suka pelajaran
        Matematika
P2: Dinda anak kelas X
K: Dinda suka pelajaran Matematika
Entimen adalah penalaran deduksi secara
langsung.
contoh :
Semua sarjana adalah orang cerdas.
Dian adalah seorang sarjana.
Jadi,Dian adalah cerdas.

INFERENSI
Inferensi merupakan sebuah pekerjaan bagai
pendengar (pembaca) yang selalu terlibat
dalam tindak tutur selalu harus siap
dilaksanakan ialah inferensi. Inferensi
dilakukan untuk sampai pada suatu
penafsiran makna tentang ungkapan-
ungkapan yang diterima dan pembicara atau
(penulis).
a.Inferensi Langsung
Inferensi yang kesimpulannya ditarik dari
hanya satu premis (proposisi yang digunakan
untuk penarikan kesimpulan). Konklusi yang
ditarik tidak boleh lebih luas dari premisnya.
Contoh:
Pohon yang di tanam pak Budi setahun lalu
hidup.
b.Inferensi Tak Langsung
Inferensi yang kesimpulannya ditarik dari
dua / lebih premis. Proses akal budi
membentuk sebuah proposisi baru atas dasar
penggabungan proposisi-preposisi lama.
contoh :
A : Anak-anak begitu gembira ketika ibu
memberikan bekal makanan.
B : Sayang gudegnya agak sedikit saya bawa.
Inferensi yang menjembatani kedua ujaran
tersebut misalnya (C) berikut ini.
C : Bekal yang dibawa ibu lauknya gudek
komplit.

PENALARAN INDUKTIF
DEFINISI
penalaran induktif adalah cara
menarik kesimpulan yang bersifat umum dari
kasus-kasus yang bersifat khusus. Aspek dari
penalaran induktif dibagi menjadi 3 bagian,
yaitu pargaraf generalisasi, analogi dan
kausal.
Jenis – jenis penalaran induktif yaitu :
1. Generalisasi yaitu proses penalaran
dengan cara menarik kesimpulan
secara umum berdasarkan sejumlah
data.
Contoh :

Hampir semua orang di Indonesia
sudah menggunakan motor Yamaha.

2.Analogi adalah cara penarikan penalaran
secara membandingkan dua hal yang
mempunyai sifat yang sama. Dengan
persamaan tersebut dapatlah ditarik
kesimpulan.

contoh :

Untuk menjadi seorang pemain bola yang
professional atau berprestasi dibutuhkan latihan
yang rajin dan ulet. Begitu juga dengan seorang
doktor untuk dapat menjadi doktor yang
professional dibutuhkan pembelajaran atau
penelitian yang rajin yang rajin dan ulet. Oleh
karena itu untuk menjadi seorang pemain bola
maupun seorang doktor diperlukan latihan atau
pembelajaran.

KAUSAL
penalaran yang diperoleh dari gejala-gejala yang
saling berhubungan. Hubungan kausal
(kausalitas) merupakan perinsip sebab-akibat
yang sudah pasti antara segala kejadian, serta
bahwa setiap kejadian memperoleh kepastian dan
keharusan serta kekhususan-kekhususan
eksistensinya dari sesuatu atau berbagai hal
lainnya yang mendahuluinya, merupakan hal-hal
yang diterima tanpa ragu dan tidak memerlukan
sanggahan.

Macam hubungan kausal :

1. Sebab- akibat.
Contoh: Penebangan liar dihutan mengakibatkan
tanah longsor.

2. Akibat – Sebab.
Contoh: Riki juara kelas disebabkan dia rajin
belajar dengan baik.

3. Akibat – Akibat.
Contoh:Tini melihat kecelakaan dijalanraya,
sehingga Tiniberanggapan adanya korban
kecelakaan.

TEORI
Teori adalah suatu pemikiran,
penelaahan, bisa juga penelitian, yang
telah diakui kebenarannya secara
ilmiah.

SUMBER TEORI
1. Buku teks (text book)
2. Jurnal (terbitan hasil penelitian ilmiah)
3. Proseding (kumpulan makalah seminar
ilmiah)

4. Dll

Selasa, 11 November 2014

kepribadian, nilai, dan gaya hidup



Kepribadian, Nilai dan Gaya Hidup

1. Kepribadian

Kepribadian merupakan ciri watak seorang individu yang konsisten yang mendasari perilaku individu. Kepribadian sendiri meliputi kebiasaan, sikap, dan sifat lain yang khas dimiliki seseorang. Tapi kepribadian berkembang jika adanya hubungan dengan orang lain. Kepribadian sendiri memiliki banyak segi dan salah satunya adalah self atau diri pribadi atau citra pribadi. Mungkin saja konsep diri aktual individu tersebut (bagaimana dia memandang dirinya) berbeda dengan konsep diri idealnya (bagaimana ia ingin memandang dirinya) dan konsep diri orang lain (bagaimana dia mengganggap orang lain memandang dirinya). Keputusan membeli dipengaruhi oleh karakteristik pribadi seperti umur dan tahap daur hidup, pekerjaan, situasi ekonomi, gaya hidup serta kepribadian dan konsep diri pembeli.
2. Nilai

Nilai (value) merupakan kata sifat yang selalu terkait dengan benda, barang, orang atau hal-hal tertentu yang menyertai kata tersebut. Nilai adalah sebuah konsep yang abstrak yang hanya bisa dipahami jika dikaitkan dengan benda, barang, orang atau hal-hal tertentu. Pengkaitan nilai dengan hal-hal tertentu itulah yang menjadikan benda, barang atau hal-hal tertentu dianggap memiliki makna atau manfaat. Dengan demikian yang dimaksudkan dengan nilai adalah prinsip, tujuan, atau standar sosial yang dipertahankan oleh seseorang atau sekelompok orang (masyarakat) karena secara intrinsik mengandung makna.
3. Gaya Hidup

Plummer (1983) gaya hidup adalah cara hidup individu yang di identifikasikan oleh bagaimana orang menghabiskan waktu mereka (aktivitas), apa yang mereka anggap penting dalam hidupnya (ketertarikan) dan apa yang mereka pikirkan tentang dunia sekitarnya. Adler (dalam Hall & Lindzey, 1985) menyatakan bahwa gaya hidup adalah hal yang paling berpengaruh pada sikap dan perilaku seseorang dalam hubungannya dengan 3 hal utama dalam kehidupan yaitu pekerjaan, persahabatan, dan cinta sedangkan Sarwono (1989) menyatakan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi gaya hidup adalah konsep diri. Oleh karena itu banyak diketahui macam gaya hidup yang berkembang di masyarakat sekarang misalnya gaya hidup hedonis, gaya hidup metropolis, gaya hidup global dll.
Faktor-faktor yang mempengaruhi gaya hidup
Menurut pendapat Amstrong (dalam Nugraheni, 2003) gaya hidup seseorang dapat dilihat dari perilaku yang dilakukan oleh individu seperti kegiatan-kegiatan untuk mendapatkan atau mempergunakan barang-barang dan jasa, termasuk didalamnya proses pengambilan keputusan pada penentuan kegiatan-kegiatan tersebut. Faktor-faktor yang mempengaruhi gaya hidup seseorang ada 2 faktor yaitu faktor yang berasal dari dalam diri individu (internal) dan faktor yang berasal dari luar (eksternal). Faktor internal dijelaskan oleh Nugraheni (2003) sebagai berikut :
1. Sikap
Sikap berarti suatu keadaan jiwa dan keadaan pikir yang dipersiapkan untuk memberikan tanggapan terhadap suatu objek yang diorganisasi melalui pengalaman dan mempengaruhi secara langsung pada perilaku.
2. Pengalaman dan pengamatan
Pengalaman dapat mempengaruhi pengamatan sosial dalam tingkah laku, pengalaman dapat diperoleh dari semua tindakannya dimasa lalu dan dapat dipelajari, melalui belajar orang akan dapat memperoleh pengalaman.
3. Kepribadian
Kepribadian adalah konfigurasi karakteristik individu dan cara berperilaku yang menentukan perbedaan perilaku dari setiap individu.
4. Konsep diri
Faktor lain yang menentukan kepribadian individu adalah konsep diri. Konsep diri sebagai inti dari pola kepribadian akan menentukan perilaku individu dalam menghadapi permasalahan hidupnya, karena konsep diri merupakan frame of reference yang menjadi awal perilaku.
5. Motif
Perilaku individu muncul karena adanya motif kebutuhan untuk merasa aman dan kebutuhan terhadap prestise merupakan beberapa contoh tentang motif.
6. Persepsi
Persepsi adalah proses dimana seseorang memilih, mengatur, dan menginterpretasikan informasi untuk membentuk suatu gambar yang berarti mengenai dunia.
Adapun faktor eksternal dijelaskan oleh Nugraheni (2003) sebagai berikut :
1. Kelompok referensi
Kelompok referensi adalah kelompok yang memberikan pengaruh langsung atau tidak langsung terhadap sikap dan perilaku seseorang. Pengaruh-pengaruh tersebut akan menghadapkan individu pada perilaku dan gaya hidup tertentu.
2. Keluarga
Keluarga memegang peranan terbesar dan terlama dalam pembentukan sikap dan perilaku individu. Hal ini karena pola asuh orang tua akan membentuk kebiasaan anak yang secara tidak langsung mempengaruhi pola hidupnya.
3. Kelas sosial
Kelas sosial adalah sebuah kelompok yang relatif homogen dan bertahan lama dalam sebuah masyarakat, yang tersusun dalam sebuah urutan jenjang, dan para anggota dalam setiap jenjang itu memiliki nilai, minat, dan tingkah laku yang sama. Ada dua unsur pokok dalam sistem sosial pembagian kelas dalam masyarakat, yaitu kedudukan (status) dan peranan.
4. Kebudayaan
Kebudayaan yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kebiasaan-kebiasaan yang diperoleh individu sebagai anggota masyarakat. Kebudayaan terdiri dari segala sesuatu yang dipelajari dari pola-pola perilaku yang normatif, meliputi ciri-ciri pola pikir, merasakan dan bertindak.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi gaya hidup berasal dari dalam (internal) dan dari luar (eksternal). Faktor internal meliputi sikap, pengalaman dan pengamatan, kepribadian, konsep diri, motif , dan persepsi. Gaya hidup adalah pola hidup seseorang di dunia yang diekspresikan dalam aktivitas, minat, dan opininya. Gaya hidup menggambarkan “keseluruhan diri seseorang” yang berinteraksi dengan lingkungannya. Pemasar mencari hubungan antara produknya dengan kelompok gaya hidup konsumen.

sumber



http://dwichuswanda13.wordpress.com/2013/10/27/sikap-motivasi-dan-konsep-diri/
http://sosiologibudaya.wordpress.com/2011/05/18/gaya-hidup/
http://zonegirl.wordpress.com/2011/11/30/pengertian-korupsi-etika-bisnis-dan-hubungan-etika-bisnis-dengan-korupsi/

sikap, motivasi, dan konsep diri



Pengertian Sikap
Sikap (Notoatmodjo, 2007) merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulasi atau obyek. Manifestasi sikap itu tidak dapat langsung dilihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup.Sikap itu merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak dan bukan merupakan pelaksana motif tertentu.Dapat diartikan juga sikap adalah kecenderungan bertindak, berpikir, berpersepsi, dan merasa dalam menghadapi objek, ide, situasi, atau nilai.Sikap bukanlah perilaku, tetapi merupakan kecenderungan untuk berperilaku dengan cara tertentu terhadap objek sikap.Sikaprelatif lebih menetap atau jarang mengalami perubahan.

Komponen Sikap
Ada tiga komponen yang secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh (total attitude) yaitu : 
a.   Kognitif (cognitive). 
Berisi kepercayaan seseorang mengenai apa yang berlaku atau apa yang benar bagi obyek sikap. Sekali kepercayaan itu telah terbentuk maka ia akan menjadi dasar seseorang mengenai apa yang dapat diharapkan dari obyek tertentu. 
b.   Afektif (affective)
Menyangkut masalah emosional  subyektif seseorang terhadap suatu obyek sikap. Secara umum komponen ini disamakan dengan perasaan yang dimiliki obyek tertentu. 
c.   Konatif (conative)
Komponen konatif atau komponen perilaku dalam struktur sikap menunjukkan bagaimana perilaku atau kecenderungan berperilaku dengan yang ada dalam diri seseorang berkaitan dengan obyek sikap yang dihadapi (Notoatmodjo ,1997).

Sifat –sifat sikap dari perilaku konsumen yaitu:
1. Consumer Behavior Is Dynamic
Perilaku konsumen dikatakan dinamis karena proses berpikir, merasakan, dan aksi dari setiap individu konsumen, kelompok konsumen, dan perhimpunan besar konsumen selalu berubah secara konstan. Sifat yang dinamis demikian menyebabkan pengembangan strategi pemasaran menjadi sangat menantang sekaligus sulit. Suatu strategi dapat berhasil pada suatu saat dan tempat tertentu tapi gagal pada saat dan tempat lain. Karena itu suatu perusahaan harus senantiasa melakukan inovasi-inovasi secara berkala untuk meraih
konsumennya.

2. Consumer Behavior Involves Interactions
Dalam perilaku konsumen terdapat interaksi antara pemikiran, perasaan, dan tindakan manusia, serta lingkungan. Semakin dalam suatu perusahaan memahami bagaimana interaksi tersebut mempengaruhi konsumen semakin baik perusahaan tersebut dalam memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen serta memberikan value atau nilai bagi konsumen.

3. Consumer Behavior Involves Exchange
Perilaku konsumen melibatkan pertukaran antara manusia. Dalam kata lain seseorang memberikan sesuatu untuk orang lain dan menerima sesuatu sebagai gantinya.


Penggunaan Multiatribute Attitude Model Untuk Memahami Sikap Konsumen
          Pengukuran sikap yang paling populer digunakan oleh para peneliti konsumen adalah model multi atribut yang terdiri dari tiga model, yaitu:
1.    The attittude toward-object model
Digunakan khususnya menilai sikap konsumen terhadap satu kategori produk atau merek spesifik. Hal ini untuk menilai fungsi kehadiran dan evaluasi terhadap sesuatu. Pembentukan sikap konsumen yang dimunculkan karena telah merasakan sebuah objek. Hal ini mempengaruhi pembentukan sikap selanjutnya.
2.    The attittude toward-behavior model
Lebih digunakan untuk menilai tanggapan konsumen melalui tingkah laku daripada sikap terhadap objek. Pembentukan sikap konsumen akan ditunjukan berupa tingkah laku konsumen yang berupa pembelian ditempat itu.
3.    The theory of reasoned-action model
 Menurut teori ini pengukuran sikap yang tepat seharusnya didasarkan pada tindakan pembelian atau penggunaan merek produk bukan pada merek itu sendiri tindakan pembelian dan mengkonsumsi produk pada akhirnya akan menentukan tingkat kepuasan.

·      Pentingnya Feeling Dalam Memahami Sikap Konsumen
          Sikap mulai menjadi fokus pembahasan dalam ilmu sosial semenjak awal abad 20. Secara bahasa, Oxford Advanced Learner Dictionary (Hornby, 1974) mencantumkan bahwa sikap (attitude) berasal dari bahasa Italia attitudine, yaitu “Manner of placing or holding the body and Way of feeling.

·      Penggunaan Sikap Dan Maksud Untuk Memperkirakan Perilaku Konsumen
          Werner dan Pefleur (Azwar, 1995) mengemukakan 3 postulat guna mengidentifikasikan tiga pandangan mengenai hubungan sikap dan perilaku, yaitu postulat of consistency, postulat of independent variation, dan postulate of contigent consistency. Berikut ini penjelasan tentang ketiga postulat tersebut:
a.    Postulat Konsistensi
Postulat konsistensi mengatakan bahwa sikap verbal memberi petunjuk yang cukup akurat untuk memprediksikan apa yang akan dilakukan seseorang bila dihadapkan pada suatu objek sikap. Jadi postulat ini mengasumikan adanya hubungan langsung antara sikap dan perilaku.
b.    Postulat Variasi Independen
Postulat ini mengatakan bahwa mengetahui sikap tidak berarti dapat memprediksi perilaku karena sikap dan perilaku merupakan dua dimensi dalam diri individu yang berdiri sendiri, terpisah, dan berbeda.
c.    Postulat Konsistensi Kontigensi
Postulat konsistensi kontigensi menyatakan bahwa hubungan sikap dan perilaku sangat ditentukan oleh faktor-faktor situasional tertentu. Norma-norma, peranan, keanggotaan kelompok dan lain sebagainya merupakan kondisi ketergantungan yang dapat mengubah hubungan sikap dan perilaku. Oleh karena itu, sejauh mana prediksi perilaku dapat disandarkan pada sikap akan berbeda dari waktu ke waktu dan dari satu situasi ke situasi lainnya.
 Postulat yang terakhir ini lebih masuk akal dalam menjelaskan hubungan sikap dan perilaku.

·      Dinamika Proses Motivasi
          Proses motivasi:
1.    Tujuan
Perusahaan harus bisa menentukan terlebih dahulu tujuan yang ingin dicapai, baru kemudian konsumen dimotivasi ke arah itu.
2.    Mengetahui kepentingan
Perusahaan harus bisa mengetahui keinginan konsumen tidak hanya dilihat dari kepentingan perusahaan semata.
3.    Komunikasi efektif
Melakukan komunikasi dengan baik terhadap konsumen agar konsumen dapat mengetahui apa yang harus mereka lakukan dan apa yang bisa mereka dapatkan.
4.    Integrasi tujuan
Proses motivasi perlu untuk menyatukan tujuan perusahaan dan tujuan kepentingan konsumen. Tujuan perusahaan adalah untuk mencari laba serta perluasan pasar. Tujuan individu konasumen adalah pemenuhan kebutuhan dan kepuasan.kedua kepentingan di atas harus disatukan dan untuk itu penting adanya.
5.    Fasilitas
Perusahaan memberikan fasilitas agar konsumen mudah mendapatkan barang dan jasa yang dihasilkan oleh perusahaan.

·      Kegunaan Dan Stabilitas Pola Motivasi
          Motivasi menurut American Encyclopedia adalah kecenderungan (suatu sifat yang merupakan pokok pertentangan) dalam diri seseorang yang membangkitkan topangan dan tindakan. Motivasi meliputi faktor kebutuhan biologis dan emosional yang hanya dapat diduga dari pengamatan tingkah laku manusia.
          Dengan demikian motivasi dapat diartikan sebagai pemberi daya penggerak yang menciptakan kegairahan seseorang agar mereka mau bekerjasama, bekerja efektif, dan terintegrasi dengan segala upayanya untuk mencapai kepuasan. Motivasi konsumen adalah keadaan di dalam pribadi seseorang yang mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan-kegiatan guna mencapai suatu tujuan.
          Dengan adanya motivasi pada diri seseorang akan menunjukkan suatu perilaku yang diarahkan pada suatu tujuan untuk mencapai sasaran kepuasan. Jadi motivasi adalah proses untuk mempengaruhi seseorang agar melakukan sesuatu yang diinginkan. Motivasi konsumen yang dilakukan oleh produsen sangat erat sekali berhubungan dengan kepuasan konsumen. Untuk itu perusahaan selalu berusaha untuk membangun kepuasan konsumen dengan berbagai kebutuhan dan tujuan dalam konteks perilaku konsumen mempunyai peranan penting karena motivasi timbul karena adanya kebutuhan yang belum terpenuhi dan tujuan yang ingin dicapai. Kebutuhan menunjukkan kekurangan yang dialami seseorang pada suatu waktu tertentu. Kebutuhan dipandang sebagai penggerak atau pembangkit perilaku. Artinya jika kebutuhan akibat kekurangan itu muncul, maka individu lebih peka terhadap usaha motivasi para konsumen.

·      Memahami Kebutuhan Konsumen
          Kebutuhan konsumen dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1.    Fisiologis
Dasar-dasar kelangsungan hidup, termasuk rasa lapar, haus dan kebutuhan hidup lainnya.
2.    Keamanan
Berkenaan dengan kelangsungan hidup fisik dan keamanan.
3.    Afiliasi dan pemilikan
Kebutuhan untuk diterima oleh orang lain, menjadi orang penting bagi mereka.
4.    Prestasi
Keinginan dasar akan keberhasilan dalam memenuhi tujuan pribadi.
5.    Kekuasaaan
Keinginan untuk emndapat kendali atas nasib sendiri dan juga nasib orang lain.
6.    Ekspresi diri
Kebutuhan mengembangkan kebebasan dalam ekspresi diri dipandang penting oleh orang lain.
7.    Urutan dan pengertian
Keinginan untuk mencapai aktualisasi diri melalui pengetahuan, pengertian, sistematisasi dan pembangunan sistem lain.
8.    Pencarian variasi
Pemeliharaan tingkat kegairahan fisiologis dan stimulasi yang dipilih kerap diekspresikan sebagai pencarian variasi.
9.    Atribusi sebab-akibat.
Estimasi atau atribusi sebab-akibat dari kejadian dan tindakan.
sumber :

http://www.yuwonoputra.com/2013/07/pengertian-dan-komponen-sikap-manusia.htm  
 http://alitinanti.blogspot.com/2011/12/perilaku-konsumen-sikap-motivasi-dan.html
http://akuntansi-manajemen2.blogspot.com/2011/07/tiga-komponen-sikap.html
http://nairnania.blogspot.com/2012/11/sikap-motivasi-dan-konsep-diri.html
  kesimpulan.

  mempelajari sikap, motivasi, dan konsep diri berguna bagi kita memahami bagaimana sikap dan sifat konsumen yang akan kita hadapi. karena sifat sikap konsumen yang akan dihadapi pasti berbeda di setiap individunya. sehingga kita bisa juga bisa menentukan bagaimana sikap kita dalam menghadapi konsumen yang akan kita hadapi.